Mengenal Kupu‐Kupu
Dari ribuan jenis serangga yang ada di bumi, ada satu kelompok yang hampir semua orang mengerti, yaitu kupu‐kupu. Mereka mengenalnya sebagai hewan terbang yang cantik dan berwarna‐warni. Padahal, banyak juga kupu‐kupu yang hanya berwarna kusam, gelap, mirip dengan daun kering atau rerumputan.
Berdasarkan klasifikasinya, kupu‐kupu merupakan golongan serangga yang termasuk ke dalam ordo Lepidoptera. Kata asing tersebut berasal dari nama latin yang merupakan penciri dari bangsa ini. Lepidos, yang berarti sisik, sedangkan pteron, yang artinya sayap. Maka, Lepidoptera merupakan kelompok serangga yang mempunyai sayap bersisik. Sisik‐sisik ini tersusun rapi menyerupai susunan
genteng, yang memberikan corak dan warna pada sayapnya. Secara umum, sebutan kupu‐kupu (Rhopalocera) disematkan untuk kelompok Lepidoptera yang beraktifitas pada siang hari (diurnal). Sementara itu, kelompok yang aktif pada malam hari (nokturnal) biasa disebut sebagai kupu‐kupu malam atau ngengat (Heterocera).
Kupu‐kupu aktif pada siang hari untuk mencari nektar pada bunga‐bunga yang mekar, dan beraktivitas lain seperti terbang, kawin dan puddling (menyerap mineral diatas lumpur atau tanah yang basah). Kupu‐kupu membutuhkan panas cahaya, walaupun beberapa jenis lebih menyukai area bertajuk atau redup. Hal tersebut karena mereka termasuk hewan berdarah dingin (poikilotermal), yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan sekitar.
Keberadaannya pada kondisi semacam ini berimplikasi pada corak dan warna sayapnya. Jika berada di daerah terbuka, maka akan umum ditemukan jenis‐jenis yang berwarna‐warni dan bercorak unik. Pada kondisi di tempat teduh atau gelap, akan lebih sering dijumpai yang berwarna buram hingga cokelat.
Bagian Tubuh Kupu‐Kupu
Tubuh kupu‐kupu dewasa terdiri dari tiga bagian yang jelas, yaitu kepala, toraks (dada) dan abdomen (perut). Kepala Kupu‐kupu memiliki sepasang sungut (antena) yang berbentuk filamen panjang dengan ujung membesar; sepasang mata majemuk (compound eyes) besar, terdiri dari mata faset (ommatidia) dan mata tunggal (oselus); sepasang labial palpi, dan yang terakhir, alat isap (probosis) berupa pipa fleksibel panjang yang dapat menggulung.
Toraks kupu‐kupu terbagi menjadi tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Disetiap ruas terdapat sepasang tungkai. Bagian tungkai kupu‐kupu terdiri dari sembilan ruas yaitu koksa, trokanter, femur, tibia dan lima tarsus yang ujungnya terdapat cakar. Pada toraks juga terdapat sekumpulan otot yang digunakan untuk pergerakan dan terbang. Sayap pertama di ruas mesotoraks dan sayap kedua di ruas metatoraks.
Abdomen terdiri dari 10 segmen, yang didalamnya meliputi alat pencernaan, pembuangan dan reproduksi. Ujung abdomen jantan terdapat valve (klasper) sedangkan betina berupa lubang untuk mengeluarkan telur‐telurnya.
Di tubuh kupu‐kupu terdapat spirakel yang tertutup oleh sisik-sisik. Spirakel ini merupakan jalan
pernafasan yang masuk ke trakea di dalam tubuh. Spirakel berjumlah sembilan pasang yang tersusun
pada ruas dada tengah sampai ke abdomen.
Pasangan sayap pertama kupu‐kupu berukuran lebih besar daripada sayap kedua. Kedua pasangan sayap tersebut diselimuti oleh sisik‐sisik, begitu juga dengan abdomen. Sisik tersebut memberikan corak dan warna. Warna tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi, mimikri dengan jenis lainnya, dan kamuflase dari musuh. Warna yang muncul karena terjadi pemantulan cahaya pada struktur permukaan sisik (ada yang bergerigi, berlubang kecil maupun bergelombang) (Peggie, 2014).
Ukuran tubuh, bentuk dasar sayap, dan warna, secara sederhana dapat digunakan sebagai penciri identifikasi. Namun, untuk pertimbangan ketelitian terutama pada beberapa jenis yang sangat mirip, diperlukan pemahaman lebih lanjut bagian komponen sayap. Pada sayap terlihat ada rusuk‐rusuk yang biasa disebut dengan vena. Setiap kelompok takson Lepidoptera memiliki pola venasi masing‐masing
yang khas. Meskipun demikian, ada bagian‐bagian utama yang dapat digunakan sebagai acuan dasar. Venasi sayap dibedakan berdasar letak dan lokasinya, yaitu subkosta (Sc), radius (R), median (M), kubitus (Cu) dan anal (A).
Disamping sistem venasi, ada bagian sayap yang juga membantu untuk ciri pengenal. Area sayap secara umum terbagi menjadi lima bagian, dari pangkal sayap ke tepi bagian luar. Bagian tersebut meliputi basal, diskal, pascadiskal, submarginal dan marginal. Sisi tepi sayap kupu‐kupu dapat dibedakan menjadi
beberapa bagian. Kosta, berada di sepanjang tepi depan kedua sayap. Apikal, yaitu bagian tepi sudut atas. Tornus, pada sudut bawah kedua sayap.
Siklus Hidup Kupu‐Kupu
Kupu‐kupu merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur – ulat (larva) – pupa (kepompong) – imago (dewasa). Siklus hidup kupu‐kupu sekitar 5‐10 minggu untuk di Indonesia dan daerah tropik. Di daerah dengan empat musim, beberapa jenis akan mengalami istirahat (diapause) selama musim dingin. Telur kupu‐kupu memiliki bentuk yang bervariasi, yaitu membulat, memanjang dan diletakkan satu persatu atau berkelompok. Jumlah telur yang diletakkan juga bervariasi, seperti beberapa jenis meletakkan telur sebanyak 30 butir, bahkan ada yang meletakkan telur hingga 200 butir tergantung dari tiap masing‐masing suku.
Larva atau ulat merupakan fase yang aktif makan dan tumbuh. Larva punya bentuk dasar silindris yang terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Pada kepala terdapat mata dan mulut. Mulut ulat merupakan tipe penggigit dan pengunyah. Ada tiga pasang tungkai pendek pada toraks, empat pasang tungkai palsu (prolegs) di ruas tiga sampai enam abdomen. Serta sepasang tungkai palsu pada ujung abdomen.
Tahap perkembangan ulat biasanya terjadi sebanyak 4‐5 instar (fase), ditandai dengan pergantian kulit (ekdisis). Setelah melewati berbagai instar maka ulat akan memasuki fase pupa atau kepompong, dengan mendekati ranting, bawah daun atau substrat lainnya. Setelah metamorfosisnya sempurna, akan keluar menjadi imago. Imago merupakan individu dewasa, yang tugas pokoknya adalah kawin. Setelah kawin, individu betina akan bertelur sebagai kelanjutan siklus hidupnya.
Habitat Kupu‐Kupu
Dimana sajakah kita dapat menemui kupu‐kupu? Mereka dapat dijumpai hampir di semua tipe habitat. Mulai dari pesisir sampai daerah pegunungan; di daerah urban, suburban, rural; di habitat alami maupun buatan; hutan dataran tinggi, hutan dataran rendah, padang rumput, perkebunan, pertanian, taman. Pada
intinya, ada dua hal yang mendukung keberadaan kupu‐kupu, tanaman berbunga dan tanaman inang. Tanaman berbunga menjadi sumber nektar untuk makanan individu dewasa. Tanaman inang menyediakan makanan untuk ulat.
Variasi jenis tumbuhan yang ada di setiap habitat, akan berpengaruh terhadap keragaman jenis kupu‐kupu. Secara umum, habitat yang floranya beragam akan memiliki kupu‐kupu yang lebih beragam, demikian pula sebaliknya. Ada juga beberapa kelompok kupu‐kupu yang berasosiasi dengan tumbuhan tertentu, sehingga ada kemungkinan hanya akan dijumpai di habitat tertentu pula.
Kawasan Semarang Raya memiliki beragam tipe habitat dan tata guna lahan. Berdasarkan hasil pendataan yang cukup intensif, beberapa lokasi diketahui merupakan habitat utama dan penting untuk kupu‐kupu.
Hutan hujan pegunungan merupakan habitat kupu‐kupu yang keragamannya paling kaya. Di Semarang Raya, habitat ini mencakup hutan di seputar Gunung Ungaran. Beberapa lokasi utama diantaranya: Gonoharjo, Kalisidi, Semirang. Beragamnya kupu‐kupu di daerah tersebut dipengaruhi keragaman flora hutan yang ada. Beberapa jenis bahkan hanya dapat dijumpai di habitat hutan saja.

Habitat berikutnya yang cukup banyak keragaman kupu‐kupunya adalah hutan dataran rendah. Hutan kota Tinjomoyo dan hutan wisata Penggaron, merupakan contoh tipe habitat tersebut.
Selanjutnya adalah kawasan rural dan suburban, seperti Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Mijen, Kendal, Ungaran, Ambarawa. Daerah‐daerah tersebut tataguna lahannya didominasi perkebunan dan pertanian. Tanaman budidaya yang bervariasi di habitat tersebut mengundang banyak jenis kupu‐kupu untuk hadir.

Di kawasan pesisir dapat dijumpai habitat hutan mangrove, vegetasi pantai, tambak dan persawahan.
Lokasinya antara lain: Jerakah, Tugu, Kaliwungu. Keragaman jenis kupu‐kupu di daerah tersebut tidak terlalu banyak, namun ada beberapa jenis yang populasinya cukup dominan.
Kawasan urban perkotaan Semarang yang lahannya didominasi bangunan, sekilas seperti tidak mendukung sebagai habitat kupu‐kupu. Namun demikian, banyaknya jenis tanaman hias yang
sengaja ditanam, cukup dapat menarik kehadiran kupu‐kupu. Jika dibandingkan dengan tipe habitat lain, kawasan urban memang paling sedikit keragamannya.