Mengenal Capung
Capung merupakan serangga terbang yang dapat dikenali dengan mudah dari bentuknya yang khas. Serangga ini juga memiliki variasi warna tubuh dan sayap yang menarik. Masyarakat umum biasa mengenal ada dua kelompok, capung yang berukuran relatif besar, dan capung jarum yang ukurannya lebih kecil.
Berdasarkan klasifikasinya, capung dikelompokkan dalam ordo Odonata, yang berasal dari bahasa Yunani odontos (gigi). Penamaan tersebut mengacu pada karakter mandibulanya yang memiliki tonjolan‐tonjolan tajam (spina) menyerupai gigi.
Keberadaan capung terkait erat dengan air. Capung bertelur pada perairan, setelah menetas nimfanya tetap hidup dalam air untuk kisaran waktu cukup lama. Nimfa hidup dalam air yang kualitasnya bagus, oleh sebab itu capung sering dikaitkan sebagai bioindikator perairan yang sehat.
Sebagian besar capung dewasa aktif pada siang hari, terutama untuk mencari makan. Beberapa jenis capung hanya aktif sesaat setelah fajar dan menjelang senja (krepuskular), dan beristirahat saat siang hari. Hanya sedikit jenis capung yang aktif pada malam hari (nokturnal), terutama dijumpai pada jenis migran. Sebagian capung memiliki ketertarikan pada sumber cahaya yang menyala pada malam hari.
Capung dikenal sebagai serangga pemangsa (predator) yang sangat efektif, baik pada fase hidup dewasa maupun nimfa. Efektivitas tersebut ditunjang oleh karakter visual yang berkembang cukup baik, serta kemampuan terbang yang gesit khususnya pada kelompok capung sejati. Peran capung sebagai predator inilah menjadikannya dikenal sebagai pengendali hama yang baik, khususnya pada habitat lahan pertanian.
Bagian Tubuh Capung
Tubuh capung dapat dibagi menjadi tiga bagian utama seperti kebanyakan serangga pada umumnya, yaitu kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen). Pada kepala terdapat dua mata majemuk, tiga mata sederhana, dua antena pendek, mulut (mandibula dan labrum) dan frons.
Toraks terdiri dari tiga segmen. Segmen pertama yaitu protoraks, tempat perlekatan sepasang kaki depan. Segmen kedua dan ketiga menyatu disebut sebagai sintoraks, merupakan tempat perlekatan kaki tengah dan belakang. Sintoraks juga disebut sebagai pterotoraks karena merupakan tempat melekatnya sayap.
Abdomen bentuknya memanjang sebanyak 10 segmen. Bagian ujung terdapat umbai ekor / embelan yang disebut sebagai anal appendages, terdiri dari epiprok dan sepasang cercus pada jantan. Pada betina, bagian tersebut dilengkapi oleh organ peletak telur atau ovipositor.
Pada jantan, abdomen segmen kedua terdapat organ reproduksi sekunder. Pada beberapa famili, abdomen kedua terdapat aurikel / cuping berbentuk tonjolan kecil membulat.
Capung memiliki dua pasang sayap, sepasang sayap depan dan sayap belakang. Sayap tipis, lunak, dan umumnya transparan. Beberapa jenis memiliki warna tunggal, dan ada yang beberapa warna. Pada sayapnya terdapat vena yang cukup rapat, yang membantu untuk identifikasi.
Siklus Hidup Capung
Capung merupakan kelompok serangga yang mengalami perubahan tubuh (metamorfosis) tidak sempurna, yaitu dalam siklus hidupnya hanya terjadi tiga tahap: telur, nimfa dan imago (dewasa).
Sebelum melakukan kawin, jantan memindahkan sperma dari organ di ujung abdomen ke organ reproduksi sekunder pada segmen kedua abdomen. Posisi tandem (formasi jantan mencengkeram betina) biasa dilakukan capung untuk mengawali kawin. Capung melakukan kawin dengan cara betina dicengkeram protoraksnya oleh ujung abdomen jantan. Selanjutnya, betina menempelkan ujung abdomennya pada organ reproduksi sekunder jantan.
Setelah proses kawin betina meletakan telur pada perairan baik sendiri, dijaga oleh jantan ataupun dalam posisi tandem tergantung dari jenis capungnya. Betina meletakan telur secara langsung pada air ataupun pada benda‐benda disekitar perairan seperti batang tanaman air, batu, tanah dan sebagainya. Perkembangan nimfa capung disebut instar ditandai dengan pergantian kulit antara 9–16, biasanya 12 perkembangan instar (Fonseka, 2000).
Nimfa akan naik kepermukaan air untuk mencari tempat molting. Capung molting pada batang tanaman air atau batu disekitar permukaan air. Molting diawali dengan pecahnya kulit pada bagian dada atas dan capung muda muncul dari retakan tersebut dengan sayap yang masih terlipat. Untuk beberapa saat sayap capung mulai terentang dan warna tubuh mulai terlihat (pigmentasi). Sayap mulai terkembang penuh dan hingga akhirnya capung siap terbang.
Habitat Capung
Secara umum, capung dapat ditemui di beberapa tipe habitat. Mulai dari daerah dataran rendah sampai tinggi; di daerah urban, suburban, rural; di habitat alami atau buatan; pesisir, danau, rawa, sungai, hutan, perkebunan, pertanian. Faktor paling penting adalah, semua habitat‐habitat yang memiliki atau dekat dengan perairan, karena terkait dengan kebutuhan siklus hidupnya.
Keragaman jenis capung sangat dipengaruhi kondisi perairan yang ada di setiap habitatnya. Habitat dengan kualitas air yang masih baik, akan memiliki jenis capung yang lebih bervariasi. Hanya sedikit jenis capung yang toleran pada perairan yang kualitasnya kurang baik. Ada beberapa kelompok capung yang
terkait dengan tipe perairan tertentu, seperti sungai aliran deras, jeram, perairan tergenang. Dengan demikian, ada kemungkinan suatu kelompok hanya akan dijumpai di tipe habitat tertentu pula.
Kawasan Semarang Raya memiliki berbagai tipe habitat dan tata guna lahan. Berdasarkan hasil pendataan yang cukup rutin, beberapa lokasi telah diketahui sebagai habitat utama dan penting untuk capung.
Hutan pegunungan dengan aliran sungai yang masih bersih merupakan habitat capung yang paling tinggi dan bervariasi keragamannya. Di Semarang Raya, habitat ini mencakup hutan diseputar Gunung Ungaran. Beberapa lokasi utama diantaranya: Kalisidi, Gonoharjo, Semirang. Beberapa jenis bahkan hanya dapat
dijumpai di habitat hutan saja.

Habitat lain yang cukup banyak ragam jenis capung adalah perairan tergenang cukup luas, seperti danau dan rawa. Di habitat ini komposisi jenisnya berbeda dengan habitat dekat hutan. Contoh tipe habitat tersebut antara lain: Rawa Pening, Waduk Jatibarang.
Berikutnya yaitu kawasan rural dan suburban, dengan tata guna lahan masih banyak persawahan dan sungai‐sungai. Sebagian besar merupakan jenis‐jenis umum, namun terkadang ada jenis yang spesifik misal pada habitat sungai semi permanen bersubstrat pasir. Lokasi-lokasinya mencakup: Kendal, Kaliwungu, Mijen, Gunungpati, Tembalang, Ungaran, Ambarawa.

Di daerah pesisir dijumpai habitat hutan mangrove, vegetasi pantai, tambak dan persawahan. Keragaman jenis capung di daerah tersebut tidak terlalu banyak. Beberapa jenis yang ada merupakan jenis toleran terhadap kualitas air yang kurang baik. Lokasinya antara lain: Jerakah, Tugu, Kaliwungu.
Kawasan urban perkotaan Semarang didominasi lahan terbangun. Kualitas perairan biasanya kurang baik, kecuali pada kolam‐kolam buatan. Pada kawasan tersebut keragaman jenis capung bisanya paling sedikit.